Sambut Ramadhan dan Tanggap Covid-19, MA. ZAHA Genggong Berbagi

Genggong – Pandemi Covid 19, memberikan pukulan telak bagi pekerja sektor informal. Kebijakan pembatasan sosial (social distancing dan imbauan bekerja dari rumah (work from home) membuat pekerja informal kesulitan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Pemulung, penjual kuliner mobile dan pengayuh becak serta tukang parkir adalah sebagian kelompok sektor informal yang terpukul akibat kebijakan ini.

Bersama Kepala Madrasah dan Guru-guru MA Zainul Hasan 1 Genggong, Pajarakan, Kabupaten Probolinggo semangat bergotong royong membagikan sembako dan masker buat warga di lingkungan MA Zainul Hasan 1 Genggong sebagai bentuk solidaritas untuk mengurangi beban warga setempat dibagikan secara door to door.

 “ Semoga dengan sedikit sembako ini, masyarakat bisa senang dalam menyambut Ramadhan di tengah pandemi covid-19 ini,” begitulah kata Kepala Madrasah Aliyah Zainul Hasan 1 Genggong saat berbagi sembako dan masker kepada masyarakat. Rabu, (22/04/2020) tadi.

Nun Hassan Ahsan Malik menuturkan bahwa pembagian ini merupakan kegiatan peduli sosial kepada masyarakat di sekitar madrasah ini, selain pandemi covid-19, MA Zainul Hasan 1 Genggong dalam pembagian sembako ini sebagai wujud menyambut bulan suci Ramadhan 1441 H.

 “ Mari kita sama-sama yakin, bahwa virus ini segera diangkat oleh Allah Subhanahu Wata’ala, jangan lupa jaga kebersihan dan kesehatan, gunakan masker ini,” kata Kepala Biro Kominfo Pesantren Zainul Hasan Genggong ini.

Sementara ustad Ahmad Juwaini menuturkan bahwa sembako yang diberikan diantaranya beras 5 kg, 1 kg minyak goreng, 1 kg gula pasir, mie goreng dan masker.

“ Alhamdulillah, Dalam tahap satu ini kita sudah mengantarkan di 3 desa, yaitu desa Karangbong, Ketompen dan Pajarakan Kulon, Insyaallah pertengahan bulan puasa kita akan berbagi lagi, semoga bermanfaat,” ucap Bendahara MA Zainul Hasan 1 Genggong ini. (dra)

Dosen UIN Malang Sebut Santri MA Zaha Luar Biasa

GENGGONG – MA Zainul Hasan (Zaha) 1 Genggong, kembali menyelenggarakan Munaqosyah Tugas Akhir bagi santri Program TahqiquQiroatil Kutub (Tahqiq). Sedikitnya ada 10 dari 78 santri Program Keagamaan dinilai luar biasa lantaran mampu menjawab pertanyaan penguji dan adu argumentasi dengan berbagai referensi.


Hal itu disampaikan oleh Wakil Dekan Bidang Akademik dan Keagamaan Fakultas Humaniora, M. Faisol, usai menguji para santri, pada Ahad (9/2).
“Luar biasa. Menerjemah itu tidak mudah. Banyak kompetensi yang harus dimiliki seorang penerjemah. Kalian tidak hanya bisa menerjamah. Tapi juga bisa menyampaikan argumentasi tentang hukum-hukum dengan referensi dari berbagai sumber,” ungkap Faisol yang hadir sebagai Dosen Penguji Tugas Akhir (TA) Program Tahqiq itu.


Lanjutnya, meski kitab yang diujikan hanya satu, namun para santri bisa menjawab pertanyaan dengan ibarah dari kitab-kitab lain. “Sungguh luar biasa, anak-anak saya di perguruan tinggi belum tentu bisa seperti mereka,” ungkap Faisol pada penutupan munasqosyah.


Pihaknya berharap tugas akhir santri bisa segera dibukukan. Sehingga nantinya bisa dijadikan tolok ukur dalam pembelajaran dan juga bisa dipelajari oleh para santri di kelas-kelas. “Apalagi karya itu bisa dikonsumsi oleh masyarakat luas,” ujarnya dengan penuh harap.


Sementara itu, Ketua Program Tahqiq, Fakhrur Razi menyampaikan, tugas akhir santri tahun ini berbeda dengan tugas akhir pada tahun sebelumnya. Kali ini tugas akhir dikemas dalam bentuk terjemah kitab. Ada 3 kitab yang diterjemahkan, yaitu kitab Qurrotu al-Ain, Ahkamual-Masajidfi Syariati al-Islam, dan Nasihatun li al-Huffaz.


Dengan adanya tugas akhir, imbuhnya, santri tidak hanya dituntut mampu menerjemah, melainkan juga dapat mempertanggungjawabkan setiap kalimat, baik secara kaidah nahwu maupun kontennya. “Kami mencari tiga kitab yang jarang bahkan hampir tidak ada terjemahannya, akhirnya ditemukanlah tiga kitab ini. Dengan begitu, artinya mereka dapat menerjemah murni dari buah pemikiran mereka sendiri,” terang Razi. Ia juga menjelaskan bahwa hal tersebut adalah indikator bahwa santri mampu membaca dan memahami kitab dengan baik.


Kerja sama MA Zaha dan Fakultas Humaniora UIN Malang sudah berlangsung selama empat tahun. M. Faisol dan Arif Rahman Hakim sebagai dosen utusan, menguji 10 santri terbaik dengan sangat detail. Keduanya menanyakan lafaz, terjemahan, dan isi materi yang mendalam. (en)