Penulis: Admin Madrasah

Jelang PKD, MA Zaha Adakan Apel Akbar dan Pelantikan OSIS

GENGGONG – Menjelang Penilaian Kompetensi Dasar (PKD) Semester Ganjil 2021, MA Zainul Hasan 1 Genggong menggelar apel akbar sekaligus pelantikan pengurus OSIS baik putra maupun putri pada Kamis (30-09-2021). Hal ini dilakukan di tengah-tengah padatnya jadwal Madrasah demi berjalannya regenerasi dalam organinasi.

Acara yang berlangsung sejak pukul 08.30 WIB di area halaman P5 MA Zainul Hasan 1 Genggong ini diawali dengan gemuruh lagu Semangat OSIS dan Indonesia Raya oleh Tim Padusa MA Zaha sehingga menambah suasana semakin khidmat. Selain Kepala Madrasah, pelantikan juga dihadiri oleh Pimpinan, Karyawan, Pembina OSIS, Dewan Guru serta seluruh santri putra dan putri MA Zaha 1 Genggong.

Usai melantik M. Fathir Dwi Putra dan Debby Sakinatul Jannah, sebagai Ketua OSIS baru periode 2021–2022, Nun Ahsan Maliki, Kepala Madrasah MA Zaha 1 Genggong, dalam sambutannya menyampaikan bahwa, “Regenerasi inilah yang nantinya akan menjadi cikal bakal pemimpin di masa depan.”

“Mungkin sekarang kalian berkhidmah (mengabdi) di Madrasah melalui OSIS, siapa tahu ke depannya mampu kalian asah dan jadikan acuan ke tingkat yang lebih tinggi dengan berbekal pengalaman-pengalaman di Madrasah”.

Lanjut Nun Alex sapaan akrab Kepala Madrasah, kami minta pengurus OSIS putra maupun putri untuk mengawal Program Muhafadzoh yang menjadi program madrasah.

Ustadz Agus Surahman selaku Pembina OSIS menambahkan, regenerasi dalam organisasi wajib dilakukan agar kita terus bisa melahirkan calon-calon pemimpin baru penerus perjuangan.
Lanjut Agus, maksudnya ialah ketika muda hendaknya digunakan untuk membekali diri dengan ilmu dan pengalaman sebanyak mungkin, hal mana yang dibutuhkan di masa tua, terlebih ketika dipilih menjadi pemimpin. Karena di saat tua dan mulai banyak tugas akan sangat sulit mendapatkan kesempatan untuk belajar. Tandas ustadz muda penuh semangat ini. (deo)

Bersaing dengan 24 Negara, Santri MA Zaha Raih Medali Olimpiade Internasional

Salsabila Meisefiyani kembali meraih medali perak pada babak final Thailand International Mathematical Olympiad (TIMO) 2020-2021 yang diselenggarakan pada 03/04/21. Sebelumnya Salsa, sapaan akrabnya, mengikuti babak penyisihan yang dilaksanakan pada 07/11/20.

Pengumuman secara daring melalui zoom meeting pada Minggu, 16/05/21.

Setelah bersaing dengan delegasi dari beberapa sekolah tingkat SLTA se-Indonesia, Salsa terpilih menjadi salah satu delegasi yang akan mewakili Indonesia pada babak final. Di antara negara yang mengikuti ajang perlombaan ini adalah Inggris, Singapura, Perancis, Australia, China, dan negara lain di seluruh dunia.

Aninatul Badiyah, Koordinator Tim Olimpiade MA Zaha mengaku sangat bangga. “Alhamdulillah bisa mendapat medali perak. Menurut saya, ini adalah hadiah terbaik untuk MA Zaha karena saingannya kemarin juga banyak dari negara maju.”

Selain Aninatul, Nun Ahsan Maliki sebagai Kepala Madrasah juga mengaku bahagia saat mendengar kabar ini. Tetapi menurutnya, mendapat medali pada ajang Internasional tidak hanya menjadi prestasi bagi MA Zaha. “Justru ini juga menjadi prestasi Pesantren, prestasi santri, para guru, dan kita semua,” tuturnya.

Nun Alex berharap setelah ini akan ada kejuaraan pada event-event berikutnya. Ia juga menyampaikan terima kasih pada semua pihak yang mendoakan dan memberi dukungan. “Khususnya Salsabila. Semoga setelah ini akan terus ada kabar-kabar baik yang menyusul,” pungkasnya. (en)

Dosen UIN Malang Sebut Santri MA Zaha Luar Biasa

GENGGONG – MA Zainul Hasan (Zaha) 1 Genggong, kembali menyelenggarakan Munaqosyah Tugas Akhir bagi santri Program TahqiquQiroatil Kutub (Tahqiq). Sedikitnya ada 10 dari 78 santri Program Keagamaan dinilai luar biasa lantaran mampu menjawab pertanyaan penguji dan adu argumentasi dengan berbagai referensi.


Hal itu disampaikan oleh Wakil Dekan Bidang Akademik dan Keagamaan Fakultas Humaniora, M. Faisol, usai menguji para santri, pada Ahad (9/2).
“Luar biasa. Menerjemah itu tidak mudah. Banyak kompetensi yang harus dimiliki seorang penerjemah. Kalian tidak hanya bisa menerjamah. Tapi juga bisa menyampaikan argumentasi tentang hukum-hukum dengan referensi dari berbagai sumber,” ungkap Faisol yang hadir sebagai Dosen Penguji Tugas Akhir (TA) Program Tahqiq itu.


Lanjutnya, meski kitab yang diujikan hanya satu, namun para santri bisa menjawab pertanyaan dengan ibarah dari kitab-kitab lain. “Sungguh luar biasa, anak-anak saya di perguruan tinggi belum tentu bisa seperti mereka,” ungkap Faisol pada penutupan munasqosyah.


Pihaknya berharap tugas akhir santri bisa segera dibukukan. Sehingga nantinya bisa dijadikan tolok ukur dalam pembelajaran dan juga bisa dipelajari oleh para santri di kelas-kelas. “Apalagi karya itu bisa dikonsumsi oleh masyarakat luas,” ujarnya dengan penuh harap.


Sementara itu, Ketua Program Tahqiq, Fakhrur Razi menyampaikan, tugas akhir santri tahun ini berbeda dengan tugas akhir pada tahun sebelumnya. Kali ini tugas akhir dikemas dalam bentuk terjemah kitab. Ada 3 kitab yang diterjemahkan, yaitu kitab Qurrotu al-Ain, Ahkamual-Masajidfi Syariati al-Islam, dan Nasihatun li al-Huffaz.


Dengan adanya tugas akhir, imbuhnya, santri tidak hanya dituntut mampu menerjemah, melainkan juga dapat mempertanggungjawabkan setiap kalimat, baik secara kaidah nahwu maupun kontennya. “Kami mencari tiga kitab yang jarang bahkan hampir tidak ada terjemahannya, akhirnya ditemukanlah tiga kitab ini. Dengan begitu, artinya mereka dapat menerjemah murni dari buah pemikiran mereka sendiri,” terang Razi. Ia juga menjelaskan bahwa hal tersebut adalah indikator bahwa santri mampu membaca dan memahami kitab dengan baik.


Kerja sama MA Zaha dan Fakultas Humaniora UIN Malang sudah berlangsung selama empat tahun. M. Faisol dan Arif Rahman Hakim sebagai dosen utusan, menguji 10 santri terbaik dengan sangat detail. Keduanya menanyakan lafaz, terjemahan, dan isi materi yang mendalam. (en)