Dosen Uin Maliki Malang: MA ZAHA 1 Genggong Menjawab Era Revolusi Industri 4.0

GENGGONG: “Sekelas Madrasah Aliyah sudah mampu membahas soal  bursa saham dalam kontek perekonomian Islam modern, gender dan masalah emansipasi, di tingkat perguruan tinggi saja belum tentu bisa membahas topik-topik seperti ini,” nah ini merupakan suatu kelebihan dari program unggulan Madrasah Aliyah Zainul Hasan yang perlu diatur kembali hingga menjadi sebuah kekuatan untuk melakukan perubahan sosial, dan merupakan potensi yang harus terus digali dan dikawal. Kalau kemampuan literasinya bisa dikembangkan akan bisa mewarnai dunia digital dan ini bisa membawa perubahan yang luar biasa, ” ucap Dr. M. Faisol, M.Ag Dosen Universitas Negeri Malang usai menguji tugas akhir karya santri yang mengikuti program Tahqiqu Qiroatil Kutub MA Zainul Hasan 1 Genggong.  Minggu 24/2/2019 lalu di Aula Hasbanah.

Bapak Faisol juga menuturkan bahwa di era revolusi industri 4.0 salah satu kompetensi yang harus dimiliki santri milenial adalah kreatif, yang kedua networking, karena kita tidak bisa hidup sendiri, kita harus punya jaringan. “Zainul Hasan ini alumninya banyak,  beliau mencontohkan bagaimana Geng Halilintar mampu menghasilkan uang 1 milyar dalam sebulan, caranya bagaimana?, kita harus jadi youtuber dan karya kita bisa diakses banyak orang. Bayangkan bila setiap bula ada seribu alumni yang mengakses karya kita, kita tinggal kalikan 1 dolar kali 1000, di sinilah pentingnya jaringan dan peran alumni sangat dibutuhkan untuk memberikan kontribusi pada pesantren,” mimpinya yang disambut dengan tepuk tangan meriah dari peserta yang hadir.

Sementara, Kepala Madrasah Aliyah Zainul Hasan KH. Ahsan Maliki, S.Sy menyampaikan bahwa MA Zainul Hasan 1 Genggong telah memberikan kesempatan bagi peserta didiknya dengan dunia dakwah, hal ini telah dilaksanakan dalam kegiatan ABS (amal bakti santri) yang diikuti oleh segenap santri kelas XII program IAI.

Munaqosyah ke tiga ini, nanti hasil karya anak tahqiq tiga angkatan akan kita bukukan dan bisa menjadi milik madrasah sekaligus untuk memperkaya perbendaharaan perpustakaan madrasah yang nantinya juga bisa dijadikan souvenir buat tamu kehormatan. Ide ide anak tahqiq cukup cemerlang dan bisa kita kembangkan agar bisa go publik dengan menggunakan fasilitas internet yang ada seprti Instagram channels telegram ma zaha dan media sosial lainnya,” harap Nun Hassan Ahsan Malik putra K.H. Moh. Hasan Saiful Islam kepada peserta yang hadir.

Tugas akhir karya ilmiah yang diujikan itu memuat tentang seputar hukum keislaman ala Aqidah Ahlu Sunnah Walajama’ah diikuti oleh sebanyak 80 santri yang mengikuti program tahqiqu qiroatil kutub khususnya Kelas XII Program IAI.  Di  tahun 2019  ini karya ilmiah membahas topik aqidah, ubudiyah, munakahah, sosial, ekonomi dan politik. (Rozy/Hendra)

Tinggalkan Balasan