Silaturrahim Wali Santri, Kepala Madrasah Tekankan Keutuhan Keluarga

Kepala Madrasah ketika mendapatkan hadiah buku “Metode Takrir” dari Wali Santri

Genggong (13/8), MA Zainul Hasan 1 Genggong, Pajarakan Probolinggo, mengadakan silaturrahim dengan Wali Santri khusus santri dari jenjang kelas X dan XI dari semua jurusan yang ada, yakni IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial), IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) dan IAI (Ilmu Agama Islam). Kegiatan ini berlangsung sekira empat jam lebih, dimulai dari jam 09.00 WIB dan berakhir pada jam 13.45 WIB, bertempat di Gedung Olah Raga (GOR) Damanhuri Romli, Genggong Pajarakan Probolinggo.

Kegiatan ini diawali dengan lantunan merdu ayat suci al-Qur’an oleh Ustadz Juma’in Robbani. Kemudian untuk menambah keberkahan dalam suasana silaturrahim, dilanjutkan pembacaan Surat al-Waqi’ah dan Surat al-Mulk yang dipimpin langsung oleh Kepala MA Zainul Hasan 1 Genggong, yakni KH. Ahsan Maliki, S.Sy.

Dalam silaturrahim tersebut, disampaikan beberapa pemaparan Program Kerja untuk satu tahun pelajaran, 2017/2018. Mengisi sambutan untuk pertama kali adalah Ustadz Sholihin, SHI, yang menjabat sebagai Wakil Kepala Bidang Kurikulum. Ustadz Sholihin memaparkan bahwa MA Zainul Hasan 1 Genggong memiliki program unggulan, yakni Tahqiqu Qiro’atil Kutub khusus untuk jurusan IAI yang bekerja sama dengan UIN Sunan Maulana Malik Ibrahim Malang, Prodistik khusus untuk jurusan IPS dan IPA yang bekerja sama dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, serta Program Tahfidz al-Qur’an 30 Juz untuk semua jurusan di MA Zainul Hasan 1 Genggong.

Menurut Ustadz Sholihin, “Santri MA Zainul Hasan 1 Genggong harus memiliki keistimewaan, harus tampil beda, dan harus berbeda dengan santri MA lain, apalagi MA yang ada di luar pesantren. Insya Allah dengan adanya dua program unggulan kami tersebut, hal itu bisa terpacai”, jelasnya.

Memberi sambutan yang kedua, Ustadz Ahmad Muhibul Firdaus, S.Pd.I selaku Ketua Prodistik, menambahkan apa yang telah disampaikan oleh Ustadz Sholihin, bahwa Prodistik mendapatkan legalitas dari ITS Surabaya, mulai dari kurikulum pembelajaran, teknis perkuliahan, hingga sertifikat lulus dengan dilegalisasi oleh Kepala Madrasah dan dari ITS Surabaya. “Prodistik MA Zainul Hasan 1 sudah memulai kerja sama dengan pihak ITS Surabaya sejak tahun 2012, dan diresmikan oleh pihak ITS Surabaya sejak saat itu pula”, tambahnya.

Ustadz Fakhrur Razi, SHI, selaku pengemban amanah mengembangkan Tahqiqu Qiro’atil Kutub mendapat kesempatan berikutnya untuk mengisi sambutan. Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Fakhrur Razi menyampaikan bahwa tujuan menjadikan Program Tahqiq sebagai suplemen wajib bagi santri IAI, adalah untuk mempelajari dan melestarikan khazanah keilmuan klasik dalam Islam berupa Kitab Kuning. “Oleh karenanya, kami selaku pengelola membekali santri dengan pembelajaran Ilmu Alat yang meliputi Nahwu dan Shorrof secara fokus untuk santri kelas X, sedangkan untuk kelas XI kami tambahkan materi Fiqh”, paparnya.

Menurut Ustadz Rozi, demikiaan sapaan akrab Ustadz Fakhrur Razi, khusus untuk kelas XII dibekali dengan bimbingan teknis penulisan karya ilmiah, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Arab. “Hal ini untuk persiapan bagi santri kelas XII dalam pembuatan Tugas Akhir berupa karangan ilmiah dengan bahasa Indonesia atau bahasa Arab, yang nantinya akan diuji oleh Tim dari UIN Sunan Maulana Malik Ibrahim Malang”, jelasnya.

Selepas Ustadz Rozi, giliran Ustadz Mukhlas Kholil selaku Ketua Tahfidz al-Qur’an memaparkan programnya. Menurut Ustadz Mukhlas, demikian beliau disapa, Program Tahfidz ini baru berjalan 1 tahun dan hanya ditujukan kepada santri yang punya kemauan kuat untuk menghafal, keterampilan dalam menghafal serta fasih dalam membaca al-Qur’an. “Dan yang terpenting, santri tersebut mendapat restu dari orang tua, karena jika tanpa restu dari orang tua, kami tolak untuk mengikuti program ini”, tegasnya dalam menjelaskan tentang program Tahfidz di MA Zainul Hasan 1 ini.

Program Beasiswa Untuk Santri

Pemaparan berbeda disampaikan oleh Ustadz Zaini Zainuri, SHI. Wakil Kepala Bidang Kesiswaan ini memberikan laporan tentang jumlah santri secara keseluruhan ketika digabung antara putera dan puteri pada tahun pelajaran 2017-2018 ini mencapai 849 santri. “Dan menyampaikan amanah dari Ketua Yayasan, yakni KH. Moh. Hasan Mutawakkil Alallah bahwa santri yang berdomisili lebih dari radius 3 KM dari pesantren, wajib untuk mondok”, tegasnya.

Kemudian, Ustadz Zaini, demikian sapaan akrabnya, memberikan penjelasan tentang program beasiswa dari MA Zainul Hasan 1 Genggong yang diberikan kepada santri. Menurutnya, pemberian beasiswa akan diberikan kepada santri yang berprestasi. “Santri yang mengharumkan nama Madrasah dengan memenangkan perlombaan yang diikuti, baik level kabupaten hingga nasional, akan dapat beasiswa dari MA Zainul Hasan 1”, tuturnya.

Ditambahkan oleh Ustadz Zaini, bahwa santri yang memperoleh peringkat satu sampai tiga secara paralel, akan juga mendapat beasiswa. “Juara kelas paralel itu adalah peringkat satu dalam satu jenjang kelas di satu jurusan, semisal jurusan IPA di semua kelas X baik putera atau puteri, siapa yang tertinggi nilainya dia yang berhak mendapat beasiswa”, jelas Ustadz yang berasal dari Pulau Masalembu Sumenep ini.

Ketika menyampaikan tentang keringanan biaya, ada ketentuan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. “Untuk pengajuan keringanan biaya pendidikan saat ini, sesuai prosedur dari pemerintah, hanya disediakan kepada santri yang memiliki Kartu Indonesia Pintar (KIP), beda dengan proogram dahulu ketika masih ada BKSM”, jelas Ustadz yang memiliki tiga puteri ini.

Perlu Menambah Sarana Kelas

Ustadz Syaifullah, S.Pd, Wakil Kepala Bidang Sarana dan Prasarana, turut serta memberikan sambutan. Dalam sambutannya tersebut, Ustadz Saiful, demikian beliau biasa dipanggil, menjelaskan bahwa sampai saat ini, Madrasah Aliyah masih membutuhkan tambahan sarana kelas, karena ruang kelas yang ada sudah tidak mencukupi.

“Kami masih meminjam lokal milik SMA satu kelas, ditempati oleh kelas XI IAI-4, juga dua lokal di Pondok Darut Tauhid puteri, untuk kelas XII IAI-1 dan XII IAI-2, belum lagi sarana lainnya untuk menciptakan suasana belajar kondusif. Jadi mohon doanya kepada segenap Wali Santri supaya diberi kelancaran, kemudahan dan barokah untuk menambah lokal kelas”, pungkasnya.

Uji Publik Baca Kitab Kuning Memukau Wali Santri

Wali santri ketika memilih kitab untuk di ujikan kepada santri

Setelah sambutan dari Ustadz Syaifullah, S.Pd, acara dilanjutkan dengan penampilan baca kitab kuning. Muhammad Fathur Rozaq, santri dari Program Tahqiqu Qiro’atil Kutub Kelas XI IAI-3 yang mendapat kesempatan untuk tampil unjuk kemampuannya membaca kitab kuning di hadapan Wali Santri. Bahkan Wali Santri diperkenankan untuk mengujinya secara langsung. Acara tersebut dipandu oleh Ustadz Fakhrur Razi selaku Ketua Program Tahqiq dan dibantu oleh Ustadz Habibi, salah satu Ustadz yang juga mengajar di Program Tahqiq. 

Kegiatan tersebut diawali dengan penunjukan kitab yang akan dibaca oleh Rozaq, nama panggilan santri asal desa Kalianan kecamatan Krucil tersebut. Dan kitab yang disediakan bermacam-macam, mulai dari tafsir seperti Tafsir Ahkam dan Tafsir Jalalain, kitab hadits seperti Bulughul Marom, dan lain-lain. Namun Wali Santri memilih kitab Tafsir Jalalain untuk dibacakan. 

Perlu diketahui, bahwa kitab yang ada ini semuanya masih kosongan, tanpa makna. Ananda Rozaq diminta untuk mempertanggung-jawabkan setiap kalimat yang dibaca dalam kitab tersebut, juga menyebutkan dasar atau dalil dari bacaannya menurut tinjauan ilmu alat, yakni kaidah Nahwu dan Shorrof”, jelas Ustadz Fakhrur Razi dihadapan Wali Santri.

Kemudian Rozaq memulai membaca kitab tafsir Jalalain, dan yang dipilih oleh Wali Santri adalah Surat al-Baqoroh. Ketika membaca masih sampai pada lafadh “surotul baqoroti”, Rozaq sudah dicecar dengan banyak pertanyaan menurut kaidah Nahwu dan Shorrofnya. Pertanyaan beruntun dari Ustadz Fakhrur Razi dan Ustadz Habibi ibarat aliran sungai yang sangat deras, namun semuanya berhasil dijawab lengkap dengan dalilnya.

Setelah selesai dengan banyak pertanyaan, Ustadz Fakhrur Razi mempersilahkan Wali Santri untuk menguji kemampuan Fathur Rozaq. Begitu mendapat kesempatan, salah satu Wali Santri kemudian maju dan menguji Fathur Rozaq dengan banyak pertanyaan seputar kaidah Nahwu dan Shorrof. Pertanyaan-pertanyaan tersebut berhasil dijawab dengan tangkas dan cepat disertai dalil dari Nadhom Alfiah dan Imrithi. Tak ayal, tepuk tangan bergemuruh dari Wali Santri dan para Asatidz yang hadir memenuhi GOR Damanhuri, lokasi pertemuan tersebut, tanda kagum akan penampilan putera dari Bapak Sasmito dari Kalianan Krucil ini.
Kepala Madrasah Tekankan Kebersamaan dan Kekeluargaan

Setelah penampilan dari santri Tahqiq, KH. Ahsan Maliki, S.Sy, selaku Kepala MA Zainul Hasan 1 Genggong memberikan apresiasi dan atensinya dalam acara silaturrahim tersebut. Dalam sambutannya, Putera Almukarrom KH. Moh. Hasan Saiful Islam ini menyampaikan bahwa antara Pengelola Madrasah serta seluruh elemen Madrasah dengan Wali Santri dan juga santri merupakan satu keluarga. “Karena satu keluarga, maka harus saling menjaga, saling melindungi, saling mengingatkan dan saling memberi motivasi”, tuturnya.

Menurutnya, Wali Santri bukan sekedar menitipkan santri kepada Madrasah, namun bagi segenap Asatidz dan seluruh elemen madrasah, santri menjadi amanah yang harus dijaga. “Oleh karenanya, harus ada kolaborasi yang baik antara Wali Santri dengan pihak madrasah. Wali Santri diharapkan selalu mendukung dan juga memotivasi santri dengan cara mengingatkan santri untuk tidak melanggar aturan pesantren dan madrasah, memotivasi santri supaya lebih disiplin dalam belajar, disiplin waktu serta patuh pada peraturan pesantren”, jelas Nun Alex, sapaan akrab KH. Ahsan Maliki, S.Sy ini.

Lebih lanjut, Nun Alex menjelaskan bahwa dengan patuh pada ketentuan dan aturan dari pesantren maupun madrasah, diharapkan ilmu yang diperoleh santri adalah ilmu yang barokah. “Kalau melanggar aturan, dikhawatirkan ilmunya tidak manfaat. Sekiranya santri keluar dari pesantren sudah mendapat ilmu serta ridho dari guru-gurunya”, jelasnya.

“Makanya, kalau mau sekolah, harus mempunyai niat untuk mengabdi supaya mendapat ridho dari Allah Azza wa Jalla dan husnul khotimah”, jelas Kepala Madrasah yang menjabat sejak tahun 2012 ini.

Setelah pengarahan dari Kepala Madrasah, acara silaturrahim kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Maulid ad-Diba’i dan ditutup dengan doa. Semoga kegiatan ini dicatat oleh Allah sebagai tambahan amal ibadah bagi yang hadir. Aamiiin.

(Laporan: Faridatul Aini dan Raghibah Jadwa Faradisi) 

Tinggalkan Balasan