MA. Zainul Hasan 1 Genggong, berbagi berkah kepada tukang becak

Pajarakan: Madrasah Aliyah Zainul hasan 1 Genggong,  selasa, 12/08. Melaksanakan rangkaian akhir Masa Orientasi Santri (MOS) Tahun 2014. Adapun rangkain saat ini adalah memberikan santunan kepada para tukang becak yang berada di lingkungan jalan raya pajarakan. Dalam acara tersebut, dihadiri oleh ustad A. Taufiq selaku wakil dari kepala Madrasah Aliyah Zainul Hasan 1 Genggong, selain itu, turut hadir  dalam acara tersebut Ustad Gatot, Ustad Muhammad Hendra, ustad didik, ustad mukhlas dan segenap pengurus osis dan peserta MOS 2014.

Para tukang becak, merasa bahagia karena telah mendapatkan rizki yang tak terduga dari santri Genggong. “Guleh mator kesoon ustad, nekah acara begus, mogeh-mogeh genggung tambah bejreh ben santrennah sukses kabbi” ujarnya kepada Ustad Muhammad Hendra.

Menurut keterangan dari Ustad Gatot selaku ketua PSB, acara baksos ini baru dilakukan tahun ini di pajarakan kepada tukang becak, kalau tahun-tahun kemarin diberikan kepada masyarakat sekitar Pesantren Zainul Hasan Genggong. Sedangkan untuk peserta MOS putri diberikan kepada anak yatim Yayasan Zainur Rahmah Pesantren Zainul Hasan Genggong tetap hingga tahun ini, adapun pemberianya akan dilaksanakan nanti sore. (1100-senyum)

Kasus ISIS, Bahan Instropeksi NU dan Muhammadiyah

Munculnya ISIS atau Islamic State of Iraq and Syria yang mengundang reaksi keras dari berbagai kalangan hendaknya menjadi bahan koreksi dan instropeksi organisasi-organisasi sosial keagamaan tentang kiprah mereka dalam membina umat di lingkungan masing-masing.

KH Zahrul Azhar Asumta menyampaikan pandangan itu dalam kegiatan “Muhasabah dan Konferensi Pers Tokoh Lintas Agama, Mahasiswa dan Seluruh Elemen Masyarakat Jombang” terhadap ISIS di Indonesia. Acara ini dilangsungkan di Kampus Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Peterongan Jombang Jawa Timur Senin (11/8).

“Kita harus muhasabah atau mengoreksi kegiatan-kegiatan kita, yakni  jam’iyah Islam mainstream di Indonesia seperti NU dan Muhamadiyah apakah sudah menyentuh dan menjawab dari permasalahan keumatan di Indonesia,” kata salah seorang pimpinan di Unipdu ini.

Karena, jika kegiatan kita sudah memenuhi kebutuhan ruhani masyarakat dan memberikan manfaat yang memadai, maka paham apapun yang bertentangan dengan Ahlussunnah wal Jamaah dan ajaran agama pasti akan susah masuk di Indonesia, lanjutnya.

Dalam pandangan pria yang akrab disapa Gus Hans ini, ISIS jelas telah melakukan kerusakan secara fisik terhadap semua yang tidak sepaham dengan mereka. Walaupun sama-sama mengusung khilafah dan anti terhadap Pancasila akan tetapi kelompok lain seperti HTI atau yang sejenisnya gerakannya masih dalam wacana dan penyampaian gagasan serta melalui dialog yang gigih kepada pihak lain.

“Harusnya kita iri dengan militansi dan ketangguhan sebagian kelompok tersebut dan tidak menggunakan kekerasan dalam meyakinkan kelompok lain,” terangnya.

Melarang Kelompok Anti Pancasila

Terlepas dari itu semua, salah seorang jajaran pengasuh di Pondok Pesantren Darul Ulum Peterongan Jombang ini juga menandaskan bahwa keberadaan ISIS yang sudah sangat terang-terangan melakukan kekerasan, maka hal itu harus ditolak.

“Pada saat yang sama, kita mendesak amir atau pemerintah untuk bersikap tegas terhadap keberadaan embrio ISIS di Indonesia,” katanya disambut aplaus hadirin. Baginya, untuk ormas makar yang tidak berideologi Pancasila mestinya sudah dilarang untuk tumbuh dan berkembang di Indonesia karena telah melakukan tindakan subversif, lanjutnya.

Pendeta Eddy Kusmayadi, Ketua Badan Kerjasama Antar Gereja (BKSG) Jombang menyatakan, ideologi ISIS sangat bertentangan dengan Pancasila. Sehingga, kata Edy, keberadannya masuk ke Indonesia sudah selayaknya ditolak. “Jika ada ormas yang tidak mau mengakui Pancasila, maka harus kita tolak,” tuturnya.

Ketua PCNU Jombang, KH Isrofil Amar berpendapat serupa. Namun demikian, hingga saat ini ia belum mencium masuknya ISIS di Jombang. Untuk tindakan lebih konkret, kata Kiai Isrofil, pihaknya masih menunggu komando dari PBNU. Dia juga menegaskan bahwa NU menolak keras ormas yang bersimpang jalan dengan Aswaja dan Pancasila.

“Untuk tindakan konkret, kami masih menunggu komanda dari PBNU. Yang pasti, kami menolak ormas yang tidak mengakui Pancasila, seperti yang diusung ISIS. Karena bagi kami NKRI adalah harga mati,” tegasnya.

Usai para pemuka agama memberikan pandangan, kegiatan ditutup dengan doa yang dipimpin Kiai Isrofil Amar. Dan sejumlah poster yang menolak keberadaan ISIS, secara bersama-sama dibakar di halaman kampus Unipdu. Para peserta juga menyanyikan lagu Indonesia Raya sebagai komitmen terhadap keberadaan NKRI.

Selain PCNU dan BKSG, dalam forum tersebut dihadir sejumlah ormas lain. Diantaranya, GKJW (Gereja Kristen Jawi Wetan), INTI (Indonesia Tionghoa), serta JGD (Jaringan Gusdurian) Jatim. “Kami yakin, gerakan ISIS sudah masuk ke Jombang. Pintu masuknya, lewat kecamatan yang selama ini menjadi basis JAT (Jamaah Ansharut Tauhid),” tandas Koordinator JGD Jatim, Aan Anshori. (Syaifullah/Mahbib)

Ketika Ulama Ingatkan Umara Soal Birokrasi

Supremasi ulama di mata masyarakat hingga kini masih tinggi. Ketika terjadi keresahan dan ketidaknyamanan yang dialami, khususnya terkait kebijakan pemerintah, publik lalu lari kepada ulama. Meski kemudian sikap prihatin para ulama ditentang pemda, namun ulama pantang mundur demi membela umat.

Hal ini mengemuka dalam bincang-bincangNU Online dengan mantan Ketua Lembaga Lingkungan Hidup (LLH) PCNU Boyolali Jawa Tengah Alif Basuki di kantor Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) Jl Cililitan Kecil III No 12 Kramat Jati, Jakarta Timur, (21/5), sore.

Menurut Alif, suasana kisruh yang terjadi di PCNU Boyolali bermula ketika para ulama menyampaikan rasa keprihatinan di berbagai forum. Sejumlah ulama dan tokoh masyarakat lalu menyampaikan tuntutan kepada Bupati Boyolali Seno Samudro.

“Sikap para ulama ini kemudian ditentang pemda. Bupati menuduh para ulama terseret kepentingan politik gara-gara menyampaikan keprihatinan atas arogansi kepemimpinan bupati. Bahkan, melalui orang bupati yang berada di struktur PCNU Boyolali berencana mendemo kiai. Ini kan aneh,” tutur Alif.

Sebagaimana diberitakan, Syuriah PCNU Kabupaten Boyolali KH Abdul Khamid menyatakan prihatin atas sikap tata kelola Pemerintah Daerah Boyolali. Ulama dan kaum agamawan merasa prihatin dengan tata kelola birokrasi di daerahnya. Keprihatinan tersebut dinilai bupati setempat telah ditunggangi kepentingan politis.

“Keprihatinan tersebut intinya bahwa para ulama meminta supaya Bupati tidak menggunakan kekuasaannya untuk kepentingan partai dan pribadinya. Lalu, agar lebih bisa bersikap sebagai negarawan daripada politisi. Terpenting, menjauhi sikap KKN dalam menjalankan tata kelola pemerintahan,” papar Alif.

Sementara itu, Sekjen Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) Abdul Waidl menegaskan pentingnya posisi ulama dalam struktur masyarakat akar rumput. Ulama, tambah Waidl, harus selalu berani mengingatkan para umara untuk selalu mementingkan pelayanan kepada umat. “Kekuasaan itu semestinya dijadikan alat untuk melayani umat,” tegasnya. (Musthofa Asrori/Mahbib)